Saya bukan dokter internist. Apa yang saya tulis ini hanya berdasarkan pengalaman saya sebagai orang yang pernah berintim ria dengan penyakin STROKE. Hingga kini, sisa sisa penyakit itu masih saya rasakan.
Pendertita stroke biasanya putus harapan, sebab rencana yang ia susun untuk hidupnya ke depan tiba tiba terputus di tengah jalan. Padahal ia belum sempat menyusun rencana cadangan. Maka sangat manusiawi bila kita mendapati penderita stroke murung, stress dan merana berkepanjangan.
Sakit adalah satu hal, sedangkan menderita (suffering) adalah susuatu yang berbeda. Yang kedua adalah kondisi psikologis yang amat ditentukan oleh sikap kita terhadap penyakit. Memang banyak orang yang sedang terkena sebuah penyakit nampak menderita. Tapi tidak sedikit orang yang memiliki penyakit yang masih bisa tersenyum, dan beraktifitas secara normal.
Berdasarkan pengalaman saya berintim ria dengan stroke, saya memperoleh pelajaran yang berharga dan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa obat penyakit stroke itu ada tiga hal. Pertama adalah bersyukur, kedua adalah semangat hidup yang tinggi, dan baru kemudian adalah pengobatan medis maupun alternatif. Mungkin kesimpulan saya keliru, namanya saja bukan dokter. Tapi lagi lagi pengalaman saya sebagai penderita stoke, itulah kesimpulan saya.
Bersyukur yang saya maksud, bukan hanya mengucapkan dhikir "Alhamdulillah" sejuta kali dalam sehari. yang saya maksud disini adalah mengitung hitung ulang (muhasaba). Berapa lama umur kita yang diberikan Tuhan, kemudian bertanya lagi berapa lama kita dianugerahi kesehatan dan berapa lama kita sakit. Kita akan terkejut, ternyata waktu sehat jauh lama dari waktu sakit kita. Jika demikian kesimpulannya, maka kita tidak memiliki alasan yang cukup untuk merasa tidak disayang Tuhan dan selalu bersyukur atas anugerahnya. Kita juga berhitung kembali saat sakit, berapa banyak organ kita yang tidak normal fungsinya dan berapa organ tubuh kita yang masih normal fungsinya. Kalau demikian kesimpulannya, maka tidak ada alasan untuk bersyukur dan juga tidak ada alasan untuk hidup seperti semula.
Ketika kita merasa bahwa masa sehat lebih panjang dari masa sakit kita, ketika menyadari bahwa organ tubuh yang sehat jauh lebih banyak dari organ tubuh yang sedikit terganggu fungsinya, maka akan menimbulkan kesadaran untuk selalu optimis. Hidup harus dilanjutkan meskipun dengan segala keterbatasan. Kita masih memiliki keluarga yang setia mendampingi, Tuhan yang masih menyayangi, perasaan inilah yang akan menumbuhkan semangat hidup kembali.
Jika kedua obat ini tidak bisa kita tumbuhkan dalam pikiran kita maka pengibatan medis maupun alternatif tidak ada gunanya. Keputus asaan itulah yang menyebabkan seorang penderita stroke enggan melanjutkan terapi fisiknya, enggan menelan obat yang diberikan. Kemeranaan berkepanjangan sebenarnya yang menjadi penyebabnyam bukan penyakit stoke itu sendiri.
Hal ini pernah saya sampaikan pada acara Al-Godam-84 di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Beberapa kawan meminta saya untuk berbagi pengalaman. Seorang kawan saya, Dr. Shobahussurur Symasi kemudian menulis sebagai salah status di akun facebooknya. Inilah tulisan tersebut
MELAWAN SAKIT: Salah satu kegiatan kami selama Reuni ALGODAM (Alumni Gontor Darussalam) 1984, di Gontor, 9-11 Mei 2013, adalah Muhadharah. Acara muhadharah, merupakan acara favorit ketika kami menjadi santri di Gontor. Yaitu kegiatan latihan berpidato 3 kali dalam seminggu: Kamis siang berbahasa Arab, Kamis malam berbahasa Indonesia, dan Selasa malam berbahasa Inggris. Malam itu, Kamis malam Jumat, saatnya muhadharah berbahasa Indonesia. Al-Godam yang hadir di Gontor 61 orang dari 153 alumni 1984. Muhadharah dipimpin oleh Rais al-Jalsah (muqaddim al-barnamij), istilah yang biasa kami gunakan untuk menunjuk seorang master of ceremony (MC, pembawa acara). Pembawa acara itu adalah Taufiq Hidayat Sahil, teman kita yang kocak dengan pantun-pantun humornya. Saya terkesima dan mendapat banyak pelajaran dari muhadharah yang disampaikan oleh AMIQ AHYAD dari Surabaya, dengan judul: Melawan Sakit. Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya ini diminta menyampaikan judul itu karena sedang melawan sakitnya, stroke. Dengan terbata-bata, doktor jebolan Lieden University Belanda itu, menjelaskan kondisinya. Suasana hening terkesima akan penjelasannya. Dalam penjelasannya, kini kondisi ahli filologi satu-satunya di indonesia dalam bidang manuskrip Arab karya para ulama Nusantara itu lumayan membaik. Otak dan pikirannya sudah sembuh 100 %, tapi fisiknya baru normal 45 %. Dia terserang stroke ketika sedang menempuh studi S3 di Leaden University Belanda. Pasca operasi, kondisi tubuh dan fikiran lemah sama sekali, badan mati sebagian, pandangan mata berputar-putar, tidak mampu berbuat apapun. Terapi dan pengobatan terus dilakukan hingga kondisinya semakin membaik seperti sekarang. Ada resep yang disampaikan sehubungan dengan proses penyembuhannya: dukungan istri, jiwa optimis, dan pengobatan. Waktu awal penyembuhan di Belanda, sang istri ditanya oleh psikiater, apakah masih setia menemani dan tidak akan meninggalkan suami, karena sulit diharapkan kesembuhannya. Sang istri menjawab: Bagaimana mungkin saya meninggalkannya ketika sakit dan hanya menemaninya ketika sehat?. Sang istri selalu menemani kemana Amiq pergi, termasuk menemani pada acara Reuni ini. Kondisi Amiq tidak memungkinkan pergi sendiri seperti teman-teman lain yang sengaja tidak membawa anak dan istri karena ingin napak tilas menjadi santri kembali. Ketika Amiq Ahyad ditanya psikiater, apakah masih punya cita-cita dengan sakitnya yang seperti ini. Dia menjawab dengan penuh optimis: "masih dong, masak nggak punya cita-cita?, setidaknya, cita-citaku yang paling dekat adalah menyelesaikan doktor". Subhanallah, seorang yang terserang stroke, masih optimis mampu menyelesaikan studinya. Dalam proses penulisan disertasinya, saya sempat bertanya kepada Din Wahid, teman Amiq di Leaden ketika pulang ke Jakarta, tentang kondisi Amiq. Din Wahid menjelaskan, kondisinya parah, tidak mampu berkonsentrasi lama, mengetik pun dengan sangat pelan. Saya pun heran, karena dalam kondisi seperti itu, selain harus menyelesaikan disertasinya, Amiq masih produktif menulis di Facebook untuk teman-temannya. Kini, ketika sudah pulang, dalam kondisi sakitnya, Amiq masih membawa segudang cita-cita, mulai dari pengembangan perpustakaan digital, pelestarian warisan keilmuwan ulama nusantara, membantu lembaga-lembaga Islam dalam memelihara khazanah Islam. Kembali Amiq berfatwa, kita mesti banyak bersyukur dan terus bersyukur. Kita diberi kesehatan lebih panjang daripada sakit yang kita derita.
Sembuh Amiq, gapai cita-citamu dan Allah meridhai langkahmu.
tks sekali untuk sharing pengalamannya, sangat mengena, sederhana dan inspiratif, secara keseluruhan sangat bermanfaat terutama bagi mereka yg sedang dalam kubangan musibah dan penderitaan
ReplyDelete