Minte-minute menuju peristiwa
Saya harus menceritakan untuk menjawab pertanyaan penyebab yang saya derita. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya bahwa saya terserang stroke pada tanggal 19 April 2009. Saat itu hari Minggu pagi. Kalau tidak salah malam Rabo sebelumnya, saya memasak gule kepala kambing bersama pak Min. Saya akan bercerita tentang orang tua yang menjadi bapak banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Leiden khususnya, dan beberapa kota di Belanda secara khusus nanti. Meskipun sangat menyukai daging kambing, saya kurang menyukai kepala kambing. Saya menkonsumsi tidak sebanyak kalau saya mengkonsumsi daging kambing. Nah pada Sabtu sore, bersama pak Min saya pergi ke rumah pak Agus Salim dan istrinya Irine di kota Den Haag naik sepeda. Di rumah pak Agus, kita disuguhi semangkok kolak ketan durian, yang sekarang ngetren dengan singkatan tandur. Rasanya manis dan tentu saja maknyus. Yang makan kolak tandur tentu saja bukan hanya saya tapi, pak Min, pak Agus dan istrinya, Irine. Oh iya ada satu lagi kawan dari LkiS yang menemani kita, yang bernama Haerus Salim.
Pak Agus begitu sering saya memanggilnya adalah kawan baik pak Mintardjo. Dia ahli semiotika bagasa Rusia. Asli Aceh, pernah belajar di Universitas Padjajaran. Terpaksa harus tinggal di Belanda bersama Irine, istrinya yang juga ahli bahasa Rusia, karena tidak bisa pulang ke Indonesia karena di “Gestapu” kan pada pemerintahan presiden Soeharto. Mereka memiliki dua orang putra. Yang pertama adalaah seorang dokter sedangkan yang kedua adalah seorang lawyer yang kini bekerjadi di salah satu kontor pemerintahan di salah satu kota di Belanda. Mereka memiliki seorang cucu perempuan.
Sepulang dari rumah pak Agus kita bertiga, kembali mengayuh sepeda ke Oegstgeest. Harus saya akui sekembalinya dari rumah pak Agus kepala saya terasa agak pening. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau itu adalah gejala hypertensi, alias darah tinggi. Saya hanya menyangka gejala dehidrasi, atau kurang cairan. Pada saat itu sudah mulai musim panas, sehingga mengayuh sepeda dari Den Haag ke Oegstgeest membutuhkan cairan yang cukup banyak. Singkat cerita saya dan pak Min tiba di rumah dengan selamat. Sedangkan Hairus Salim berpisah di Smaragdlaan.
Itu kalau makanan dianggap sebagai penyebab stroke yang saya derita. Saya memang termasuk orang yang gemar makan daging, dan makan manis. Tapi tentu saja saya bisa berkilah. Bukankah yang makan gulai kepala kambing tidak hanya saya? Bukankah yang memakan kolak tandur juga bukan hanya saya? Kenapa hanya saya yang terserang stroke?
Terdapat faktor psikologis yang mungkin menjadi penyebabnya. Menempuh studi lanjutan jauh dari keluarga memberikan beban psikologis tersendiri. Saya waktu itu berjanji kepada anak saya Aji bahwa akan pulang pada bulan Januari 2009. Kenyataannya hingga April saya belum memiliki kesempatan untuk pulang ke Indonesia. Untuk memotong rambut saja Aji bilang akan menunggu saya pulang dan itu dia ucapkan setiap saya menelponnya. Oh iya, saya hampir setiap hari menelpon kelauarga di Indonesia dengan jasa voip. Smartvoip. Hingga sekarang malah. Selain itu beban studi agar menulis, memberikan progress report juga menambah beban psikologis. Tapi harus jujur saya akui bahwa inilah resiko sekolah gratis dibiayai orang lain yang harus saya terima.
Singkatnya perpaduan antara beban psikologis dan pola makan yang tidak seimbang itulah menyebabkan saya terkapar dan nyaris meninggal. Sepulang dari rumah pak Agus Salim saya tidak bisa memejamkan mata dari depan komputer. Apa yang saya pikirkan saat itu begitu banyak. Hingga jam 05:30 dini hari baru saya bisa memejamkan mata, tepatnya tertidur bukan niat tidur.
Tiba-tiba saya terbangun sekitar jam 8:30 atau 09:30 saya terbangun dan sudah tidak bisa memejamkan mata. Saat bangun saya merasa pening di kepala saya, lalu saya mencoba menghilangkannya dengan mengguyur air hangat di sekujur badan saya di kamar mandi. Sayangnya haru saya satu menit berdiri di bawah shower, saya merasakan perut saya melilit dan ada yang ingin harus saya keluarkan. Saya memakai baju dan turun ke bawah menuju ke toilet. Saat menuruni tangga, kepala saya terasa semakin berat. Karena tidak memiliki firasat hipertensi, saya hanya menduga hanya sekedar gejala kurang tidur. Memang saat itu saya hanya bisa tidur kurang lebih 3 jam.
Saya berhasil melaksanakan hajat dengan sempurna. Tetapi kemudian kepala teras semakin berat, dan kaki semakin lemas. Tapi saya masih sempat mampu mengenakan pakaian. Karena terasa sangat pusing, saya putuskan untuk naik keatas dan kembali tidur. Tetapi kaki ini sudah tidak mampu diajak menyangga badan untukmenaiki tangga menuju ke kamar. Saya memanggil pak Mintardjo,yang kebetulan sedang berada didepan komputernya di kamar tamu dan minta tolong supaya memapah saya ke ruang tamu.
Saya dipapah pak Min menuju ruang tamu dan kaki saya masih mampu melangkah. Ketika sampai di salah satu sofa yang menghadap ke Barat, saya terduduk dan kepala tidak hanya semakin berat tapi juga dunia terasa berputar. Saya muntah untuk pertama kalinya. Saya minta pak Min untuk dipanggilkan ambulance supaya saya segera dibawa ke rumah sakit. Tapi pak Min yang tidak pernah melihat saya sakit hany berkata : “Loro opo, kene tak slimuti (sakit apa kamu, ini saya berri selimut)”. Kepala saya semakin berat, dan sekali lagi saya minta kepada pak Min untuk segera memanggil ambulance. Saya saat itu sudah tidak kuat lagi menyangga kepala lagi. Akhirnya saya merebahkan diri di atas kursi. Sekali lagi saya muntah. Akhirnya pak Min menelpon anaknya, Ratna supaya menelpon ambulance untuk segera ke alamatnya dan membawa saya ke rumah sakit.
Saya tidak tahu persis selang berapa lama ambulance datang dan menjemput saya. Tapi yang pasti saya memperoleh pertolongan kurang dari 1 jam setelah kejadian. Yang mengejutkan saya, setelah diukur ternyata tensi darah saya 270. Wow inilah awal hipertensi. Petugas Ambulance segara memberikan pertolongan pertama, menyuntikku dan akhirnya membawaku ke ambulance.
Seperti layaknya prosedur pertolongan, mereka menanyakan siapa dokter keluarga (huisarts). Saya katakan bahwa saya belum memiliki dokter keluarga karena memang saya belum pernah mengunjungi dokter selama saya di Belanda. Saya katakan bahwa saya tidak pernah sakit dan ini adalah kali pertama dan terparah. Saya katakan supaya saya segera dibawa ke rumah sakit sebelum saya mati. Ketika hendah dibawa ke ambulance saya diminta untuk berjalan sambil dipapah, saya mencoba tapi saya tidak memiliki kemampuan. Alias lumpuh total. Akhirnya saya dinaikkan diatas tandu dan dibawa ke ambulance. Kakiku saat itu lumpuh tapi alhamdulillah otakku terutama memoriku normal seratus persen. Tetapi yang aku rasakan saat itu, akibat tekanan darah yang kelewat tinggi itu, setiap goncangan ambulan saat menuju ke rumah sakit ibarat goncangan yang membalikan bumi. Dahsyat ma….n.
Dari ambulance, tentu saja saya dibawa ke ruang ruang emergency. Berapa lama saya di rawat? Saya kurang tahu secara pasti . Tapi seingatku di seluruh dadaku dipasang alat untuk mendeteksi detak jantungku. Seingatku setiap 15 menit tekanan darahku diukur secara otomatis. Pak Min dan anaknya, Ratna dengan setia menunggu saya di luar ruang rawat emergency. Mungkin setelah dipikir bahwa saya sudah keluar dari periode kritis dan tekanan darah saya sudah relatif tidak terlalu tinggi, saya dipindahkan ke ruang rawat di department neurologie di LUMC. Saya tidak ingat kamar berapa saya dirawat. Seingatku saya dipindah sekitar jam 7 malam. Saya dirawat sekamar dengan Christine penderita stroke, yang berasal dari Filipina. Stroke yang menyerang saraf bicaranya menyebabkan dia hanya mampu mengucapkan “a i u dan e”. di tangaku sudah terpasang gelang plastik yang menunjukkan nomer pasienku 1065959.
Pada episode berikutnya saya akan bercerita bagaimana pengobatan kimiawi selamana saya dirawat di LUMC.
No comments:
Post a Comment