Tepat tanggal 19 April 2009 saya dianugerahi sakit langka. Penyakit itu
Syndrom Wallenberg. Penyebabnya adalah stoke yang diakibatkan oleh penyempitan
pembuluh darah ke otak. Penyebab penyempitan adalah kandungan lemak yang
berlebihan dalam tubuh saya. Gejalanya seabreg banyaknya kalau dilihat di
internet. Kehilangan keseimbangan, penglihatan ganda, perut kembung hingga
rasanya mau meledak, ceguken, syaraf wajah ketarik, tidak bisa membedakan
temperatur, dan masih banyak lainnya. Singkatnya saya terkapar dan dirawat di
LUMC (Leidsche Midische Universiteit Centrum) selama satu bulan
setengah. Terus saya harus belajar jalan di Revalidatie Centrum (Pusat
Rehabilitasi Fisik) juga selama 1 bulan setengah.
Saat itu saya ibarat bermain main dengan kematian. Sebagai ummat beragama
tentu berhak meminta kesembuhan, tapi itu tidak pernah saya lakukan. Saya hanya
minta diberi ketabahan, kekuatan untuk menerima anugerah Tuhan. Sambil menunggu
ujian apa lagi yang hendak diberikan ke saya. Tentu saya tidak pernah menolak
dan meminta didoakan supaya cepet sembuh.
Selama sakit dan dirawat di LUMC saya sungguh kebanjiran perhatian. Kunjungan
kawan kawan PPI Leiden, kawan-kawan JKI silih berganti setiap hari. Kondisi
saya juga selalu diupdate setiap saat. Bahkan jadwal menengok saya juga
mereka buat. Bukan karena menolak kunjungan dalam jumlah yang banyak tapi
menghindari omelan suster LUMC karena yang mengunjungi kelewat banyak untuk
ukuran orang Belanda. Kebetuhan saya, sekecil apapun pasti mereka penuhi.
Ada peristiwa kecil yang membuat saya terharu, ketika seseorang membawakanku
buah mangga, tetapi tidak ada pisau untuk mengupasnya, mereka kemudian
mengumumkan di Mailinglist Leideners bahwa siapa besok akan akan menjengukku
supaya membawa pisau biar mangga bisa dikupas dan saya bisa menikmatinya. Karanagan
bunga juga gak terkira banyaknya. Guys you really made me strong.
Ketika di rawat di LUMC, saya harus mencari asuransi kesehatan yang baru. Sebab
biaya pengobatan untuk penyakit sejenis yang saya derita terlalu mahal untuk
asuransi standart seorang mahasiswa, Lippmann. Saya harus mengucapkan terima
kasih kepada Laurie dan Marise yang dengan sigap hingga saya segera memiliki
asurasi kesehatan yang baru, Zorg en Zekerheid. Memang preminya agak mahal
(akhirnya saya tahu kalau saya harus berkontribusi 40 Euro), tapi sebagai orang
sakit seperti saya, berbagai kemudahan yang saya dapatkan membuatku sangat
nyaman sebagai penderita stroke.
Elly akhirnya datang ke Belanda menjenguk saya. Sehari setelah saya pindah
ke Revalidatie Centrum. Saya harus dirawat di RC karena saya harus belajar
jalan. Saat pindah RC saya sudah mampu berdiri, dan memutar roda kursi roda. Belum
berani dan belum bisa jalan. Istriku selalu mendampingiku sejak jam tengok
diperkenankan (13.00) hingga waktu tengok usai jam 21:00. Untung waktu itu
summertime jadi jam sembilan malam matahari masih belum tenggelam. Begitu
setiap hari, hingga rutinitas itu berlangsung selama 45 hari alias sebulan
setengah. Terima kasih sayang.
Akhirnya tanggal 20 Oktober 2009 saya pulang ke Indonesia bersama Elly
Sutiana, istri tercinta. Untuk
istirahat, melanjutkan pengobatan sekaligus melakukan riset lapangan untuk
keperluan disertasi. Sebuah agenda yang ambisius bagi seorang yang nyaris
lumpuh dan terkapar.
Crossing the
limit
Limit atau batasan
adalah kita sendiri yang menciptakan. Kita juga yang melanggarnya. Ketika saya
pulang ke Indonesia, saya sudah mampu berjalan meskipun kadang masih
membutuhkan tongkat. Tapi sejak itu, saya berniat untuk membuang tongkat dan
mengatakan bahwa cukup sudah berjalan dengan menggunakan berbagai peralatan
bantu. Saya khawatir dengan terlalu lama mempergunakan alat bantu seperti kursi
roda, saya malah terlena dan tidak bisa mengoptimalkak potensi motorik yang
saya miliki. Prinsip saya, sebelum saya capek saya harus istirahat, sebelum
jatuh saya harus berhenti dan duduk. Titik. Sedangkan kapan capeknya, kapan jatuhnya?hanya saya yang tahu.
Hanya saya yang tahu kapan harus berhenti. I
the only who knows when have I to stop.
Alhamdulillah setiap
hari bisa berjalan kaki sepanjang 2-3 km. Tentu pada awal perjalan jarak
tersebut harus ditempuh dalam waktu 45 menit hingga satu jam. Tetapi pada
akhirnya saya mampu melakukaannya dalam 20 menit. Begitu setiap hari rutinitas
hampir setiap pagi hari. Mengenai jarak saya punya cerita tersendiri, karena
saya tidak pernah mengukur secara persis jarak jalan pagi yang saya
tempuh. Ketika jalan pagi saya sering ketemu pak Hadi, begitu saya
menyebut mantan Kabagset Kandepag (sekarang berubah menjadi Kemenag) Jatim. Dia
mengatakan bahwa jarak tempuh satu kali putaran taman di Karah Agung dekat
rumahku sekitar 500 hingga 750 meter, kalau keluar hingga TK. Al-huda sekitar
1000 meter. Jadi kalau saya setiap hari 3 kali memutari taman dan kemudian
sekali putaran keluar taman maka hitunglah sendiri jarak yang saya
tempuhnya. Yang jelas hingga saya balik lagi ke Leiden, saya menghabiskan 3
buah sandal jepit karena termakan aspal saking tipisnya. Oh iya, biasanya saya jalan pagi dengan beralaskan
sandal jepit.
Selain jalan pagi, rutinitas yang saya lakukan adalah pergi ke Fakultas
Adab IAIN Sunan Ampel tempat saya bekerja. Tentu saja berkunjung ke
fakultas Adab tidak saya lakukan di hari pertama saya pulang. Seingatku, saya
baru mengunjungi fakultas Adab pada bulan ke-lima saya Indonesia. Tepatnya pada
saat pengukuhan pak Husein Aziz sebagai guru besar di bidang ilmu Balaghah di
IAIN Sunan Ampel. Saya lupa persis tanggalnya. Secara rutin saya ke IAIN
setiap hari Senin hingga Kamis, mulai jam 11 pagi hingga jam 4 sore. Awalnya
saya harus naik taxi, tetapi seiring meningkatnya kemampuan fisik, saya kesana
dibonceng sepeda motor oleh Elly. Kecuali hari Selasa dan Kamis, saya harus
pulang sendiri dengan taxi, karena saat itu Elly harus mengantar Aji les Bahasa
Inggris ke YPIA di jalan Sumatera Surabaya.
Harus saya akui, bahwa selama 2 bulan pertama kunjungan saya ke Fakultas
Adab tidak ada yang saya kerjakan. Karena memang tunjuan saya hanya menyegarkan
dan menyerap enegi akademis kolega saya. Intinya hanya ber hahahihi saja. Tidak
ada yang lain.
Tidak jelek jelek amat, karena selama kunjungan rutin saya di fakultas Adab
saya akhirnya mampu mengerjakan beberapa tugas akademis untuk diri sendiri. Sebuah
artikel akhirnya bisa saya presentasikan di Simposium Internasional
Manassa 27-29 Juli di Solo yang berjudul “Tipologi Manuskrip Islam Pesantren”
sebuah artikel yang gagal terbit juga selesai dengan judul “Readers Marking in
Islamic Manuscript”. Artikel yang gagal terbit tersebut awalnya merupakan
persembahan saya untuk guru saya Prof. J.J. Witkam, tapi sebenarnya juga bagian
dissertasi yang belum selesai saya tulis. Sebuah artikel juga hampir selesai
saya tulis tentang kajian Historiografis tentang pernikahan Aisyah dan Nabi
Muhammad. Tapi artikel yang sudah ditulis hingga 40 halaman akhirnya belum
tuntas saya kerjakan karena banyak hal.
Pada periode ini saya juga mencoba menulis 3 abstract untuk short course
dan simposium. Short course di Mesir, sebuah simposium di Hawai USA, dan
Jakarta. Ketiga abstractnya sudah selesai tapi tidak ada satupun yang
diiterima. Tapi seandainya diterima, pasti saya akan terlibat perang dingin
dengan pembimbing saya dan bisa dibayangkan bagaimana sibuknya seorang yang
nyaris terkapar.
Tetapi prestasi terbesar pada periode ini adalah, I have crossed the
border. Saya bisa mempertahankan semangat hidup dan mengalahkan rasa takut. Saya
bisa juga membuang kata “tidak bisa” (jadi ingat lagunya Bimbo)
Nanti saya akan bercerita tentang Pengobatan Timur yang saya lakukan selain
pengobatan kimiawi yang harus saya jalani.
Ahmed
Hariyadi, Lina Kushidayati, Merah
Putih Setengah Tiang and 5 others like this.
@wiwin n Rohman: this is the history. they inspire me as well!
Salut! Senang membacanya.
ReplyDelete