Friday, May 17, 2013

Berdamai dengan Sakit: Episode pertama


Tepat tanggal 19 April 2009 saya dianugerahi sakit langka. Penyakit itu Syndrom Wallenberg. Penyebabnya adalah stoke yang diakibatkan oleh penyempitan pembuluh darah ke otak. Penyebab penyempitan adalah kandungan lemak yang berlebihan dalam tubuh saya. Gejalanya seabreg banyaknya kalau dilihat di internet. Kehilangan keseimbangan, penglihatan ganda, perut kembung hingga rasanya mau meledak, ceguken, syaraf wajah ketarik, tidak bisa membedakan temperatur, dan masih banyak lainnya. Singkatnya saya terkapar dan dirawat di LUMC (Leidsche Midische Universiteit Centrum) selama satu bulan setengah. Terus saya harus belajar jalan di Revalidatie Centrum (Pusat Rehabilitasi Fisik) juga selama 1 bulan setengah.

Saat itu saya ibarat bermain main dengan kematian. Sebagai ummat beragama tentu berhak meminta kesembuhan, tapi itu tidak pernah saya lakukan. Saya hanya minta diberi ketabahan, kekuatan untuk menerima anugerah Tuhan. Sambil menunggu ujian apa lagi yang hendak diberikan ke saya. Tentu saya tidak pernah menolak dan meminta didoakan supaya cepet sembuh.

Selama sakit dan dirawat di LUMC saya sungguh kebanjiran perhatian. Kunjungan kawan kawan PPI Leiden, kawan-kawan JKI silih berganti setiap hari. Kondisi saya juga selalu diupdate  setiap saat. Bahkan jadwal menengok saya juga mereka buat. Bukan karena menolak kunjungan dalam jumlah yang banyak tapi menghindari omelan suster LUMC karena yang mengunjungi kelewat banyak untuk ukuran orang Belanda. Kebetuhan saya, sekecil apapun pasti mereka penuhi.  Ada peristiwa kecil yang membuat saya terharu, ketika seseorang membawakanku buah mangga, tetapi  tidak ada pisau untuk mengupasnya, mereka kemudian mengumumkan di Mailinglist Leideners bahwa siapa besok akan akan menjengukku supaya membawa pisau biar mangga bisa dikupas dan saya bisa menikmatinya. Karanagan bunga juga gak terkira banyaknya. Guys  you really made me strong.

Ketika di rawat di LUMC, saya harus mencari asuransi kesehatan yang baru. Sebab biaya pengobatan untuk penyakit sejenis yang saya derita terlalu mahal untuk asuransi standart seorang mahasiswa, Lippmann. Saya harus mengucapkan terima kasih kepada Laurie dan Marise yang dengan sigap hingga saya segera memiliki asurasi kesehatan yang baru, Zorg en Zekerheid. Memang preminya agak mahal (akhirnya saya tahu kalau saya harus berkontribusi 40 Euro), tapi sebagai orang sakit seperti saya, berbagai kemudahan yang saya dapatkan membuatku sangat nyaman sebagai penderita stroke.

Elly akhirnya datang ke Belanda menjenguk saya. Sehari setelah saya pindah ke Revalidatie Centrum. Saya harus dirawat di RC karena saya harus belajar jalan. Saat pindah RC saya sudah mampu berdiri, dan memutar roda kursi roda. Belum berani dan belum bisa jalan. Istriku selalu mendampingiku sejak jam tengok diperkenankan (13.00) hingga waktu tengok usai jam 21:00. Untung waktu itu summertime jadi jam sembilan malam matahari masih belum tenggelam. Begitu setiap hari, hingga rutinitas itu berlangsung selama  45 hari alias sebulan setengah. Terima kasih sayang.

Akhirnya tanggal 20 Oktober 2009 saya pulang ke Indonesia bersama Elly Sutiana, istri tercinta. Untuk istirahat, melanjutkan pengobatan sekaligus melakukan riset lapangan untuk keperluan disertasi. Sebuah agenda yang ambisius bagi seorang yang nyaris lumpuh dan terkapar. 

Crossing the limit
Limit atau batasan adalah kita sendiri yang menciptakan. Kita juga yang melanggarnya. Ketika saya pulang ke Indonesia, saya sudah mampu berjalan  meskipun kadang masih membutuhkan tongkat. Tapi sejak itu, saya berniat untuk membuang tongkat dan mengatakan bahwa cukup sudah berjalan dengan menggunakan berbagai peralatan bantu. Saya khawatir dengan terlalu lama mempergunakan alat bantu seperti kursi roda, saya malah terlena dan tidak bisa mengoptimalkak potensi motorik yang saya miliki. Prinsip saya, sebelum saya capek saya harus istirahat, sebelum jatuh saya harus berhenti dan duduk. Titik. Sedangkan kapan  capeknya, kapan jatuhnya?hanya saya yang tahu. Hanya saya yang tahu kapan harus berhenti. I the only who knows when have I to stop.  

Alhamdulillah setiap hari bisa berjalan kaki sepanjang 2-3 km. Tentu pada awal perjalan jarak tersebut harus ditempuh dalam waktu 45 menit hingga satu jam. Tetapi pada akhirnya saya mampu melakukaannya dalam 20 menit. Begitu setiap hari rutinitas hampir setiap pagi hari. Mengenai jarak saya punya cerita tersendiri, karena saya tidak pernah mengukur secara persis jarak jalan pagi yang saya tempuh.  Ketika jalan pagi saya sering ketemu pak Hadi, begitu saya menyebut mantan Kabagset Kandepag (sekarang berubah menjadi Kemenag) Jatim. Dia mengatakan bahwa jarak tempuh satu kali putaran taman di Karah Agung dekat rumahku sekitar 500 hingga 750 meter, kalau keluar hingga TK. Al-huda sekitar 1000 meter. Jadi kalau saya setiap hari 3 kali memutari taman dan kemudian sekali putaran keluar  taman maka hitunglah sendiri jarak yang saya tempuhnya. Yang jelas hingga saya balik lagi ke Leiden, saya menghabiskan 3 buah sandal  jepit karena termakan aspal saking tipisnya. Oh iya, biasanya saya jalan pagi dengan beralaskan sandal  jepit.

Selain jalan pagi, rutinitas yang saya lakukan adalah pergi ke Fakultas Adab  IAIN Sunan Ampel tempat saya bekerja. Tentu saja berkunjung ke fakultas Adab tidak saya lakukan di hari pertama saya pulang. Seingatku, saya baru mengunjungi fakultas Adab pada bulan ke-lima saya Indonesia. Tepatnya pada saat pengukuhan pak Husein Aziz sebagai guru besar di bidang ilmu Balaghah di IAIN Sunan Ampel. Saya lupa persis tanggalnya.  Secara rutin saya ke IAIN setiap hari Senin hingga Kamis, mulai jam 11 pagi hingga jam 4 sore. Awalnya saya harus naik taxi, tetapi seiring meningkatnya kemampuan fisik, saya kesana dibonceng sepeda motor oleh Elly. Kecuali hari Selasa dan Kamis, saya harus pulang sendiri dengan taxi, karena saat itu Elly harus mengantar Aji les Bahasa Inggris ke YPIA di jalan Sumatera Surabaya.

Harus saya akui, bahwa selama 2 bulan pertama kunjungan saya ke Fakultas Adab tidak ada yang saya kerjakan. Karena memang tunjuan saya hanya menyegarkan dan menyerap enegi akademis kolega saya. Intinya hanya ber hahahihi saja. Tidak ada yang lain.

Tidak jelek jelek amat, karena selama kunjungan rutin saya di fakultas Adab saya akhirnya mampu mengerjakan beberapa tugas akademis untuk diri sendiri. Sebuah artikel akhirnya bisa saya presentasikan  di Simposium Internasional Manassa 27-29 Juli di Solo yang berjudul “Tipologi Manuskrip Islam Pesantren” sebuah artikel yang gagal terbit juga selesai dengan judul “Readers Marking in Islamic Manuscript”. Artikel yang gagal terbit tersebut awalnya merupakan persembahan saya untuk guru saya Prof. J.J. Witkam, tapi sebenarnya juga bagian dissertasi yang belum selesai saya tulis. Sebuah artikel juga hampir selesai saya tulis tentang kajian Historiografis tentang pernikahan Aisyah dan Nabi Muhammad. Tapi artikel yang sudah ditulis hingga 40 halaman akhirnya belum tuntas saya kerjakan karena banyak hal.
Pada periode ini saya juga mencoba menulis 3 abstract untuk short course dan simposium.  Short course di Mesir, sebuah simposium di Hawai USA, dan Jakarta. Ketiga abstractnya sudah selesai tapi tidak ada satupun yang diiterima. Tapi seandainya diterima, pasti saya akan terlibat perang dingin dengan pembimbing saya dan bisa dibayangkan bagaimana sibuknya seorang yang nyaris terkapar.

Tetapi prestasi terbesar pada periode ini adalah, I have crossed the border. Saya bisa mempertahankan semangat hidup dan mengalahkan rasa takut. Saya bisa juga membuang kata “tidak bisa” (jadi ingat lagunya Bimbo)
Nanti saya akan bercerita tentang Pengobatan Timur yang saya lakukan selain pengobatan kimiawi yang harus saya jalani. 

 Huda Hasanbasri inspiring, pak!! I read every nooks and crannies of the story! Keep me on the updated version of this, and yes please tag my name on it!! inspiring, I shall confess! barakallah fiek, ya Basya!
 Rohman Liana nice n motivating Sir!
 Amiq Ahyad @Nuril: you one of the witnesses. no problem at all.
@wiwin n Rohman: this is the history. they inspire me as well!
 Din Wahid Sebagai salah satu saksi dari eposiode hidupmu ini, saya harus menyatakan salut buatmu Amiq. Luar biasa, dan pantang menyerah!
 Masyhudi Adab buat disertasi itu sulit.. tapi tidak mustahil.
 Buni Yani · Friends with Ahmad Najib and 118 others mantap cak
 Sunarwoto Dema "Kekuatan menerima anugerah", kata yang tak terperi kedalaman maknanya...
 Imam Adji yo mas sing sabar! mugo Gusti paring "keajaiban" marang hambane sing pasrah! amin!
 Mahbub Hefdzil Akbar likes this inspiring story. Salut bagaimana P amiq "mengelola" faktor X.
  Lina Kushidayati Salut pak, perjuangan panjenengan sekeluarga luar biasa

1 comment: