Catatan
Ini adalah daur ulang catatan saya di facebook yang pernah saya tulis pada tanggal 15 Januari 2011, dan merupakan episode ketiga saat saya masih terkena Syndrom Wallenberg dan dirawat di LUMC. Selamat membaca.
Perawatan Medis di LUMC
Sesampainya saya di kamar, orang yang saya lihat pertama adalah pak Mintardjo. Luar biasa bapak tua itu. Artinya dia menunggui saja sejak saya dirawat di ruang rawat gawat darurat hingga ketika saya pindah ke ruang inap biasa. Lebih kurang 7 jam. Tidak ada guratan kekhawatiran di wajahnya. Dia tahu betul kondisi saya, mungkin baginya saya sakit di saat dan tempat yang tepat. Saya dirawat oleh dokter yang tepat.
Saya ingat betul kalimat pertama yang dia ucapkan,
“istrimu beberapa kali menelpon tapi tidak saya jawab, biar kamu sendiri yang menjawab.” Seraya memberikan hp nokia 6680 saya.
“ini hp mu siapa tahu istrimu nelpon lagi”
Saat itu sekitar jam 19:00 waktu Belanda, artinya jam 24:00 tengah malam waktu Indonesia
Tak lama kemudian telpon genggamku berdering, dan ternyata yang menelpon adalah istriku. Elly. Saya ceritakan secara runtut apa yang saya tulis dalam episode kedua tulisan ini. Dia berteriak menangis mendengar cerita itu. Saya menyadari betul kegundahannya, karena saya sakit tanpa dia bisa merawatku. Tapi saya tidak mau kesedihannya menjadi hambatan psikologis bagi saya dalam proses penyembuhan ini. Semakin lama saya sakit semakin tidak karuan perasaannya dan dengan sendirinya saya juga akan semakin lama sembuhnya. Maka saya tenangkan perasaannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena saya berada dalam perawatan dokter terbaik.
Juga saya ceritakan bahwa saya saat itu lumpuh tidak bisa berjalan, tapi otakku normal sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Pada hari pertama, saya takut membuka mata. Sebab setiap yang saya lihat berputar seperti kitiran. Rupanya tekanan darah yang kelewat tinggi, bahkan lebih tinggi dari badaku sendiri, berdampak pada kornea mataku. Kata Ratna, anak pak Min, saat itu korneaku berputar cepat. Saya ingat betul, bahwa keesokan hari ketika kawan-kawan PPI Leiden rame rame mengunjungiku, saya hanya memicingkan mata saya tanpa berani membuka mata. Saya hanya mampu mengenali mereka dari suara, tanpa berani melihatnya.
Selama berada di LUMC saya berada di bawah perawatan dokter A. F. Lipka. Seorang dokter yang masih sangat muda.
Pada minggu pertama saya harus menjalani serangkaian observasi medis untuk memastikan jenis penyakit yang saya derita. Tetapi dari serangkaian observasi medis yang melelahkan adalah observasi tentang gerakan mata saya yang berputar. Tidak kurang dari tiga observasi mata dan sekali gerakan mata saya direkam dengan alat khusus. Semua obeservasi terhadap mata saya dilakukan diluar kamar tempat saya di rawat. Itu artinya saya harus di oyong-oyong ke mana- mana. Meskipun saya berada di tempat tidur, tetapi perpindahan ketempat lain sungguh merupakan proses yang tidak terlalu nyaman buat saya karena setiap goncangan akibat dari perputaran roda terasa sungguh menyiksa. Bagi mereka gerakan kornea saya akibat hipertensi dianggap kasus yang spesial. Begitu kata dr. Lipka.
Untuk memastikan jenis penyakit saya, saya harus menjalani serangkaian observasi. Pertama adalah CT Scan. Saya dibawa ke departemen Radiologi, kemudian kepalaku dimasukkan ke sebuah rongga alat untuk menentukan secara tepat kerusakan jaringan pembuluh darah yang terjadi ketidak normalan. Saya harus disuntik sebuah cairan kontras yang membantu memudahkankan proses pemetaan kerusakan jaringan. Ada perasaan panas menjalar setelah disuntikkan cairan tersebut ketubuh saya. Sebelum disuntikkan perawat jawab tidak dan baru kemudian perawat menanyakan apakah saya alergi terhadap sebuah cairan kimia tertentu? Saya jawab tidak. Baru kemudian perawat menyuntikkan cairan kontras ke tubuh saya. Saya harus melakukannya sebanyak dua kali. Hasilnya diketahui bahwa telah terjadi inflamasi pada pembuluh darah ke otak saya. Tapi dokter tetap masih belum bisa memastikan jenis penyakit saya.
Observasi kesehatan kedua yang saya lakukan, adalah MRI. Saya selalu berkelakar menyebut obserbasi ini sebagai ketok majik. Karena observasi ini menggunakan alat yang mengeluarkan bunyi “gedar gedor” persis orang yang sedang memperbaiki mobil yang penyok. Sangat bising. MRI memakan waktu sekitar 45 menit. Saya menjalaninya selama sekali.
Observasi ketiga adalah Angiografi. Menurut penuturan dr. Libka saya harus melakukan observasi ini untu memastikan letak kerusakan jaringan tubuh saya. Sehingga dia bisa menentukan penyakit dan jenis pengobatan yang akan diberikan. Jiah……… sudah menjalani berkali-kali observasi masih juga dokter muda ini belum bisa menentukan jenis penyakit yang saya derita dan obat yang akan diberikan. Seperti biasa dr. Lipka meminta persetujuanku, seperti biasa saya juga tersenyum setiap dia meminta persetujuanku. Rupanya dia merasa saya sudah capek menjalani serangkaian test. Dia katakan bahwa kasus saya sangat special jadi harus ditreat secara special, dia mengatakan kalau ini adalah mungkin test terakhir yang akan saya jalani. Dia jelaskan bahwa saya akan dimasuki selang lewat selangkangannya utuk dimasukin cairan untuk mendeteksi, ya lagi lagi mendeteksi, kerusakan jaringan dalam tubuh saya. Saya katakan ke dr. Lipka bahwa dia lebih tahu apa yang terbaik yang harus saya jalani. Dia tersenyum dan keesokan harinya saya menjalani tes Angiografi.
Sebenarnya tidak ada yang unik dalam tes ini. Setelah dipangkal paha diolesi alkohol dan gel, perawat mengatakan bahwa akan memasukkan pipa kecil ke pangkal paha saya supaya cairan tersebut bisa sampai ke jaringan otak saya. Tujuannya supaya peta kerusakan jaringan tubuhsaya bisa digambarkan secara detil dan tepat. Tapi ada yang menyiksa. Saya dilarang bergerak selama observasi ini. Sebuah gerakan kecil akan menggagalkan hasil tes, paling tidak hasil tes menjadi tidak begitu sempurna. Menyiksa sekaligus menjengkelkan karena saat test gejalan penyakit saya yaiku cegu’en sudah muncul dan sangat mengganggu. Sedangkan dokter Libka hanya tersenyum ketika saya mengeluhkan gejala ini dan menolak untuk memberi obat. Kata sih akan hilang sendiri seiring dengan membaiknya penyakit saya. Test Angiografi hampir saja gagal, karena pada periode kedua, cegu’en saya muncul dan gak bisa dihentikan. Untungnya periode kedua hanya untuk memastikan saja. Peta kerusakan jaringan ditubuh saya sudah digambarkan pada periode pertama (30 menit pertama) dari tes Angiografi. Cegu’en saya semakin parah dan akhirnya test dihentikan karena kepala saya terus bergetar karena cegu’en tersebut. Perawat yang melakukan test merasa kasihan karena cegu’en yang saya derita. Parah banget katanya, maka dia akan merekomendasikan ke dokter Lipka untuk memberikan sesuatu yang bisa meredakan gejala ini. Test selesai dan saya dikembalikan ke kamar saya.
Yang tidak enak justru setelah test Angiografi. Saya tidak diperkenankan untuk bergerak selama 12 jam. Mana mungkin, dan benar saja karena saya tidak mampu menahan gerakan selama 12 jam, akhirnya dipangkal paha saya keluar darah segar yang menyebabkan pakaian rumah sakit bersimbah darah.
Sore harinya, dr. Lipka menjenguk saya. Saat itu hari kedelapan saya terbaring di kasur tanpa diberi obat sebutirpun karena dokter belum bisa memastikan jenis penyakit saya. Edan…. Seminggu tubuh ini dibiarkan menyembuhkan dirinya sendiri. Selama itu saya hanya diberi paracetamol, itupun kemudian saya menolaknya di hari ketiga. Karena saya takut syarafku lambat menerima reaksi sakit. Dr Lipka mengatakan bahwa meskipun dia belum bisa yakin 100 persen jenis penyakit saya, tapi katanya dia sudah 75 persen mengetahui jenis penyakit saya berdasarkan tes Angiografi yang baru saya jalani. Katanya nanti malam saya akan memperoleh obat yang bisa saya konsumsi.
Ini dia obat obat yang saya konsumsi
Prednisolon 60mg yang saya konsumsi sehari tiga kali sehari 20mg per konsumsi. Ini obat syaraf, yang punya efek jahat. Diantara efeknya adalah menambah nafsu makan, perut bikin kembung, berat badan menjadi bertambah, tekanan darah menjadi relatif tinggi.
Alendroninezuur tablet 70 mg. Tablet ini dikonsumsi sehari dalam seminggu. Seingatku hanya saya konsumsi setiap hari Rabo. Ini untuk memperkuat tulang saya
Calci Chew D3 Kauwtablet 500 mg. Ini tablet kunyah yang manis rasanya yang harus saya konsumsi sehari sekali.
Persantinne Retard Dipyridamol 200 mg. ini adalah kapsul berwarna merah yang harus saya konsumsi sehari dua kali, pada jam 8 pagi dan pada jam 6 malam. Kapsul ini diperuntukkan untuk menstabilkan tekanan darah saya akibat konsumsi prednosolon
Carbasalaatcalcium 100mg. Ini adalah serbuk yang harus saya minum untuk mengencerkan darah saya, atau dengan kata lain untuk menghindari pengentalan darah. Saya mengkonsumsinya sehari satu saschet.
Hidrochloorthiazie, tablet 12, 5 mg. . tablet ini saya konsumsi sehari sekali di pagi hari untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh saya.
Metformine HCL 850mg. Ini obat untuk menstabilkan kandungan gula darah akibat jahat dari Prednisolon yang saya konsumsi. Obat ini hari saya konsumsi tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Di akhir pengobatan, kandungan metformine diturunkan menjadi 500 mg.
Simvastatine Accord, tablet 40mg. Tablet ini untuk menurunkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah. Harus saya konsumsi sekali sehari di malam hari dan setelah minum tablet ini saya disarankan untuk tidak minum juice.
Perindopril tert-butylamine, tablet 4mg. tablet ini harus di konsumsi sekali sehari di pagi hari untuk menjaga stabilitas tekan darah saya.
Saya baru diberi obat kimia di hari ke delapan saya berada di rumah sakit. Itu artinya badan saya dalam kondisi sangat membutuhkan obat untuk meringankan penderitaan saya. Atau justru sebaliknya, dengan kemampuan menyembuhkan tubuh saya justru dalam kondisi tidak membutuhkan obat kimia. Tapi saya tidak tahu pasti kondisi mana yang saya alami saat itu. Yang pasti badan saya terasa sangat kaku. Teramat sangat bahkan. Cegu’en yang saya alami sejak hari ketiga dan telah membuat saya sangat tersiksa memaksa otak saya untuk segera memutuskan segera mengkonsumsi obat yang diberikan dr. Lipka.
Reaksi tubuh saya sungguh luar biasa. Badan saya terasa menjadi sangat nyaman dan tidak kaku lagi. Meskipun sulit untuk mengatakan sudah lemes. Tapi kekakuan tubuh saya berkurang kurang lebih 75 persen. Yang menggemberikan adalah cegu’en saya berkurang frekwnsinya sekitarar 50 persen. Alhamdulillah kesabaran saya terjawab sudah. Keesokan harinya ketika, saya bertemu dr Lipka saya katakan perkembangan tubuh saya, dia tersenyum gembira dan mengucapkan satu kata sambilmengacungkan jempolnya “Great! Congratulation”. Lalu dia bertanya bagaimana dengan cegu’en saya? Ketika saya berkata bahwa telah berkurang lima puluh persen, dia bilang “betul kan apa yang saya bilang, suatu hari akan sembuh dengan sendirinya.” Saya sangat berterima kasih banyak dan saya memberi ucapan selamat kepadanya.
Oh iya ada satu obat lagi yang saya harus saya konsumsi, untuk mrncegah efek dari obat2 yang saya minum. Obat yang saya minum memiliki efek gangguan lambung. Lambung saya menjadi membesar. Makan sesuap saja rasanya perut ini melembung seakan mau meledak saja. Obat ini diberikan ketika saya dirawat di Rijland Revalidatie centrum di Wassenarweg Leiden. Obat ini diberikan atas saran dr. J.H.B. Nijendijk. Obat itu adalah Omeprazol, 20mg dalam bentuk kapsul dan dikonsumsi sehari satu kapsul.
Selama saya dirawat di LUMC, seminggu pertama praktis saya memperoleh bantuan seratus persen dari suster untuk keperluan sehari hari. Mandi, saya dimandikan. BAB juga saya dibantu mereka. Seminggu pertama saya nyaris lumpuh, kaki ini sudah tidak mampu untuk menyangga berat badan ini. Anggota badan sebelah kiri bisa saya gerakkan memiliki kekuatan motorik, tapi tidak bisa dikoordinasi. Contoh yang paling sederhana adalah seperti ini, tangan kiri saya mampu mengangkat gelas tapi tidak mampu memindahkannya ke arah yang diminta. Sedangkan bagian tubuh saya sebelah kanan saya memiliki kekuatan motorik dan koordinasi, tapi tidak mampu membedakan temperatur. Bagi bagian tubuh saya sebelah kanan, memegang es sama mengejutkannya dengan memegang kopi panas. Mengejutkan, tapi tidak bisa merasakan apakah kejutan itu panas atau dingin.
Saya baru memiliki kemampuan untuk berdiri pada minggu keempat, terus mampu dan berani berjalan kesaamping sambil berpegangan ke pinggir tempat tidur. Saya baru memiliki keberaniah berjalan kedepan dengan bantuan rolator pada minggu kelima, dan praktis saya terpompa kembali semangat hidup saya ketika saya mapu berjalan ke depan meskipun masih haru dengan bantuan rollator.
Pada episode berikutnya saya akan bercerita bagaimana saya belajar berjalan dan berusaha optimis dalam hidup baik ketika saya dirawat di LUMC maupun ketika saya dirawat di Rijnland Revalidatie centrum. Tetapi sebelum bercerita tentang hal itu saya juga mau menyelingi cerita ringan dan lucu selama saya dirawat di LUMC. Jadi cerita saya belajar berjalan akan saya ceritakan dua minggu berikutnya.