Catatan Kecil
Ini adalah note yang pernah saya tulis di akun FB saya pada tanggal 29 Januari 2011. Sengaja saya daur ulang untuk dibaca lebih banyak kawan lagi semoga bermanfaat.
Kehilangan kemanpuan berjalan bukanlah hal yang mudah diterima. Semenjak saya terserang Syndrom Wallenberg, hampir saja lumpuh. Sebenarnya sih tidak lumpuh total, tepatnya kedua kakiku, terutama kaki yang kiri tidak mampu menyangga berat badanku? Penyebabnya adalah syaraf koordinasiku nyaris morat marit sehingga tidak mampu menerima sinyal perintah dari otak. Ya begitulah kalau kaki gak manut pikiran, alias gak singkron. Sedangkan kaki sebelah kananku sebenarnya normal saja, alias bisa diperintah. Tapi yang namanya tubuh ini, kalau satu anggota badan tidak selaras akibatnya yang tidak seimbang.
Pada minggu pertama kedua kaki saya sebenarnya tetap bisa dgerakkan. Ketika dr. Lipka meminta saya untuk mengangkat kaki kiri maupun kanan saat terlentang saya tetap bisa melakuikan dengan sempurna. Hanya saja ketika pada posisi miring ke kanan, saya tidak bisa menjaga posisi kaki kiri supaya lurus saat naik maupun turun. Kakiku terasa sangat berat dan tidak bisa saya perintahkan untuk naik turus dengan lurus. Begitu juga tangan kiriku, hampir seminggu saya tidak mampu menggenggam sendok makan. Untuk menggenggam sendok saya harus mempergunakan tangan kanan. Untung saya sangat terbiasa makan memakai tangan kanan. Contoh lain ketidak mampuan koordinasi otak terhadap tangan kiri adalah ketidak mampuan saya untuk meletakkan ujung telunjuk saya ke ujung hidung saat mata tertutup. Dr Lipka setiap mengunjungi saya selalu memerintahkan dua hal untuk melihat perkembangan kemampuan koordinasi saya: mengangkat kaki sambil miring dan meletakkan ujung jari telunjuk ke ujung hidung dalam kondisi mata tertutup.
Ini adalah periode yang paling kritis dalam hidup. Menyerah apa go ahead. Terserah saya milihnya, hidup adalah hidup saya, yang menjalini ya saya sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk memilih opsi kedua. Hidup harus tetap dilanjutkan apapun resikonya.
Tuhan memang sudah mengatur jalan hidup hambanya. Ini bukan postulat kehidupan melainkan pelajaran kehidupan. Paling tidak itulah yang saya simpulkan sampai hari ini dari perjalanan hidup ini. Sebelum berangkat ke Belanda, kurang lebih 4 bulan,saya mengikuti sebuah training metode pengobatan cara baru. Nama training itu adalah SEFT singkatan dari Spiritual Emotional Freedom Technique yang diajarkan oleh penemunya sendiri yaitu Ahmad Faiz Zainuddin. Bagi saya training ini bukan hanya mengajarkan bagaimana metode pengobatan dengan cara metode release and gratitude, tetapi merubah cara pandang saya tentang hidup secara revolusioner. Sebagai contoh, sakit sebenarnyamerupakan metode tubuh untuk berkomunikasi dengan pemliknya. Saat sakit sebenarnya tubuh kita ingin mengatakan bahwa “gue sebenarnya ada juga lho, cuma lagi bete alias on the bad mood . Saat sehat kita memang terlalu abai dengan tubuh kita. Kita jarang berdialog dengan tubuh yang setiap hari tereksploitasi potensinya oleh gerak tubuh kita sepanjang hari. Saat sakit tubuh kita ingin pengatakan “perhatiin kita dong” alias sedang mencari perhatian kita.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah kesatuan sistemik, bila satu organ yang sakit, maka seluruh anggota tubuh kita merasakan sakit. Solidaritas antar organ. Ini juga yang menyebabkan banyak yang melupakan bahwa saat sakit masih banyak organ kita yang masih berfungsi normal. Ini juga yang menyebabkan saat sakit doa yang paling sering didendangkan adalah mohon kesembuhan “Allahumma anta al-shāfi, lā shifā’a illa minka, Ya Tuhan, Engkau adalah zat yang maha Penyembuh. Hanya dari Mu lah kesembuhan itu berasal.” Normal, bagi seorang yang ingin sembuh. Sebab sakit cukup menjengkelkan bagi banyak orang. SEFT memberikan perspektif lain dalam mensikapi sakit. Kalau kita sakit sebenarnya organ yang sehat masih jauh lebih banyak. Kenapa kita tidak mensyukuri yang masih sehat biar Tuhan menambah kesehatan kita dan mengurangi penyakit kita. Bukankah Allah telah bersabda “la’in shakartum laazīdannakum wa lain kafaartum inna ‘adhābī lashadīd, kalau engka bersyukur pasti akan aku tambahkan nikmat yang enkau syukuri, dan bila engkau abai atas nikmatku, maka tahukah engkau adhabku saangatlah pedih”
Saat sakit, saya memang lumpuh, tapi masih banyak organ tubuh saya yang sangat prima. Otak saya masih sangat normal, saya masih bisa berkomunikasi tanpa kesulitan, saya masih bisa bernafas normal tanpa batuan alat apapun, jantung saya masih berfungsi normal, ginjal saya juga bagus, dan masih banyak organ tubuh saya lainnya yang berfungsi sempurna. Dan yang paling penting juga saya tidak kekurangan perhatian dari kawan kawan. Kebanyakan malahan. Kalau saya toh pada akhirnya saya tidak bisa berjalan, tapi saya masih bisa berfikir. Artinya saya masih mungkin menyelesaikan sekolah saya. Lalu kenapa harus give up alias putus asa? Inilah yang kemudian membuat saya untuk memilih opsi kedua, the life must go on.
Sejak saat itu saya membuat keputusan untuk tidak akan meminta kesembuhan kepada Tuhan. Tetapi menghitung organ tubuh yang masih sehat, menyukurinya, dan selalu berpikir positif tentang masa depan, dan apapun yang diberikan Tuhan. Saya pernah ditanya oleh guru saya, Ahmad Faiz Zainuddin, apakah SEFT membantu menyembuhkan penyakit saya? Saya jawab tidak, tapi SEFT membantu saya untuk tetap bertahan di periode yang paling sulit dalam hidup saya. Siapa tahu, saya sakit karena kurang bersyukur. Tuhan rindu mendengar tasbihku.
Di hari hari pertama ketika dirawat di LUMC, dokter Lipka selalu melakukan eye movement test untuk mengetahui sejauh mana gerakan mata saya akibat tekanah darah. Pada minggu pertama praktis kornea mata saya masih berputar, meski semakin hari semakin berkurang kecepatannya. Akibat dari Syndrom Wallenberg adalah letak kornea saya menjadi tidak simetris antara kornea mata kiri dan kanan. Posisi kornea mata kiri saya agak sedikit turun kebawah. Ini menyebabkan saya menderita double vision. Semua yang saya lihat menjadi dua buah atas dan bawah. Ini juga yang membuat saya takut berjalan. Saya menyadari posisi kornea yang tidak simetris tersebut setelah satu bulan ketika saya sudah mampu berdiri dan berkaca di cermin dan menyadari ketidaksimetrisan tersebut.
Untuk melatih otot motorikku dr. Lipka dan perawat menyarankan saya untuk melatih kekuatan kakiku dengan latihan kecil. Kecil, tapi terasa sangat berat buatku saat itu. Saat saya merebahkan badan di tempat tidur saya disaran untuk menaik turunkan kaki kiri maupun kanan. Kemudian melakukan hal yang sama sambil memiringkan kekiri maupun ke kanan. Saya turuti saran mereka. Mereka juga menyarankan untuk menggerakkan tangan dan jari. Anjuran ini juga saya turuti. Saat itu saya betul merasakan bahwa bagian badan sebelah kiri dari kepala hingga kaki bermasalah dengan sensor motoriknya. Setiap gerakan di bagian kiri tubuh ini menimbulkan beban yang luar biasa beratnya. Tapi saya selalu meyakinkan diri saya sendiri, it is only the beginning, and the next will be fantastic. Saya harrus akui bahwa meyakinkan diri sendiri pada kondisi yang sangat rentan bukanlah hal yang mudah.
Setiap saya mendapat kunjungan dr. Lipka beserta para perawat dan menanyakan bagaimana kondisi saya hari ini, saya selalu mengatakan I am fine. Paling tidak saya selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa suatu saat saya akan menjadi lebih baik. Ada seorang perawat pria, saya lupa namanya, mungkin heran melihat jawaban saya selalu fine fine saja, pernah mengatakan bahwa You are not fine Mr. Amiq . saya katakan padanya saya hanya mengajari diri saya supaya tetap optimis dengan masa depan saya. Saat itu dia memberi jempol.
Satu minggu pertama saya praktis memperoleh bantuan seratus persen dari para perawat. Dari mandi, BAB hingga ganti baju. Saya nyaris tidak bisa melakukan aktifitas sehari hari. Dua hari pertama saya harus melakukan semuanya di atas tempat tidur karena saya takut merasakan goncangan. Hari ketiga hingga ketujuh, saya mandi dan BAB dikamar mandi, tetapi tetap dibantu oleh perawat. Untuk menuju ke kamar mandi saya harus diangkat dua orang perawat dari tempat tidur ke kursi roda.
Selain double vision yang saya lami sebagai akibat dari tekanan darah saya yang terlalu tinggi itu, gejala penyakit Syndrom Wallenberg yang cukup membuat saya menderita adalah cegu’en alias hack up. Sejak hari pertama saya sakit dr. Lipka menanyakan apakah gejala ini juga saya alami. Saat itu saya katakan bahwa saya tidak merasakan gejala itu. Cegu’en baru muncul di hari ketiga. Ketika saya katakan bahwa saya cegu’en dr. Lipka tersenyum dan mengatakan bahwa akhirnya “dia” datang juga. Kacau ini dokter. Menertawakan awal penderitaan saya tanpa mau memberi obat. Bagi orang Jawa, cegu’en muncul bila kita kurang minum, maka untuk menyembuhkannya seseorang harus minum air, atau dikegetin. Rupanya solusicegu’en seperti ini juga dipercaya di kalangan masyarakat Belanda. Salah satu perawat memberitahukan bahwa kalau cegu’en, maka seseorang harus dijegug (jw. Dikagetin dengan cara dipukul punggungnya). Itu kalau cegu’en yang normal. Cegu’en yang saya alami disebabkan oleh syaraf yang konslet.
Saya ingat betul bagaimana cegu’en itu mengganggu saya. Dihari pertama cegu’en itu mengganggu 2 jam, kemudian meningkat 5 jam di hari kedua. Dihari ketiga cegu’en mengganggu sekitar 12 jam, kemudian dihari keempat hingga hari kelima atau saat hari pertama saya memperoleh obat, cegu’en mengganggu saya selama 24 jam. Mengganggu karena saya mengalaminya terus menerus tanpa henti. Kalau dia mengganggu saya selama 2 jam di hari pertama, itu artinya saya cegu’en selama 2 jam terus menerus tanpa henti. Begitu juga ketika mengganggu saya 24 jam. Cegu’en itu berhenti ketika saya tertidur. Ketika membuka mata saya cegu’en lagi. Yang membuat saya merasa capai adalah saat cegu’en di hari tiga hingga ke lima, saya harus berhenti menahan nafas beberapa detik saat cegu’en. Di hari keempat cegu’ensaya memeroleh cara untuk menghentikan cegu’en adalah dengan memiringkan badan ke arah kanan. Tetapi untuk memiringkan badan bukanlah hal yang mudah bagiku saat itu karena saat menggerakkan badan terlalu cepat rasanya seperti menumpahkan dunia.
Sejak minggu kedua, saya sudah tidak diperbolehkan untuk makan di atas tempat tidur. setiap sarapan saya harus turun dari tempat tidur dan menikmati sarapan dan makan siang di meja di pojok kamar. Tenju saja karena saya masih belum kuat berdiri, setiap akan makan pasti ada seorang suster yang membantu saya turun dan naik ke tempat tidur, mau dan setelah selesai makan. Kalau makan malam, saya selalu ditanya mau makan di tempat tidur atau di meja. Sejak minggu kedua saya tidak lagi dimandikan perawat, karena dianggap kemampuan motorik saya meningkat. Saat mandi, saya hanya diantar ke dalam kamar mandi, kemudian perawat keluar dengan pesan kalau ada apa saya harus memanggil bantuan dengan menarik tali yang akan membuat lampu emergency menyala. Begitu juga kalau saya sudah selesai mandi.
Pada minggu ketiga dirawat di LUMC saya didatangi petugas dari depertemen fisoterapi untuk melatih kekuatan otot kaki saya. Seingatku pertama datang di pagi hari, sekitar jam 10 an. Dia bertanya apakah saya mau dilatih berjalan? Saya jawab saya mau ta jawapi saya takut jatuh. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kita akan latihan perlahan lahan. Latihan pertama saat itu adalah saya diminta untukmengangkat kaki saya dalam posisi duduk diatas roda. Lalu dia memijit kakiku. Hanya itu latihan pertama dan dilakukan selama setengah jam. Ketika selesai dia mengatakan bahwa dia akan kembali lagi dua hari lagi. Sebelum pulang petugas dari departemen fisioterapi menyarankan saya melakukan latihan ringan seperti menggerakkan kaki dan tangan saat di tempat tidur.
Ketika datang untuk kedua kalinya, petugas fisiopterapi melatih saya untuk berdiri, sambil bertanya apakah saya mampu berdiri. Tentu saja saya jawab tidak. Dia menyuruhku untuk mencoba, saya bilang tidak kuat. Dia memegang kedua buah tanganku dan menyuruhku berdiri. Saya coba berdiri tapi akhirnya saya terduduk di kursi roda. Dia kegmudian memintaku mengangkat kakiku untuk beberapa kali hitungan. Lalu dia menawarkan apakah saya bersedia diajak ke Gym untuk menguatkan otot, tentu saja saya jawab dengan senang hati saya mau. Lalu dia mengatakan akan mengajakku ke Gym minggu depan. Untuk sementara dia memintaku melatih kekuatan tangan dengan memutar roda kursi roda. Tentu saja permintaan itu tidak saya lakukan karena belum kuat.
Minggu berikutnya saya diajak ke arena Gym. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku ngegym. Karena memang saya tidak pernah olah raga apa lagi ngegym. Olah raga kesukaanku hanyalah lari pagi dan tenis meja. Dia mendorong kursi rodaku, dari kamarku ke Gym yang berada di lantai dasar LUMC, sambil bersiul, kadang menyanyi ringan. Sesekali dia mengajakku berbicara, tentu saja dengan berbahasa Inggris, karena memang saya tidak terlalu lancar berbahasa Belanda. Setibanya di Gym saya di latih menarik beban, seberat satu kilo. Rasanya saya sudah mengangkat beban seratus kilo. Saya semakin menyadari bahwa otot saya terutama bagian kiri, sangatlah lemah. Saya katakan saat itu satu kilo terlalu berat, maka beban itu dikurangu menjadi hanya setengah kilo. Hanya setengah kilo!
Di Gym otot saya dilatih mulai mengangkat beban setengah kilo, hingga akhirnya saya mampu mengankat beban dua kilo. Latihan otot tersebut tampak sederhana tapi dampaknya sungguh mencengangkan karena di akhirminggu ke-empat akhirnya saya kuat berdiri. Dan saya juga kuat menggerakkan kursi roda keliling kamar.
Minggu kelima pun latihan di gym lebih variatif, dan saya semakin bersemangat. Saya dilatih berjalan dengan dua mistar. Awalnya saya diminta berjalan kesamping sambil berpegangan mistar. Awalnya saya sangat ketakutan karena takut jatuh. Tapi dia meyakinkan bahwa dia akan berada di dekat saya dan segera memberi pertongan cepat kalau saya jatuh. Akhirnya saya memberanikan diri untuk berjalan kesampin sambil berpegan mistar sedangkan di berjalan persis di belakang saya. Sedangkan kursi roda dia pindahkan di seberang untuk saya duduk kalau saya sudah sampai di seberang. Akhirnya saya sampai di seberang. Saya di sarankan untuk duduk di atas kursi roda dan istirahat sejenak. Setelah itu saya ditawari untuk berjalan kesamping ke seberang yang lain, ketika saya berdiri dia memindahkan kursi roda itu ke seberang yang lain. Hari itu saya merasa melakukan lompatan besar, saya berjalan meskipun baru kesamping, itupun dengan berpegangan mistar. Keringat bercucuran, persis seperti selesai berjalan 5 kilometer.
Dia mengatakan bahwa latihan hari itu cukup dan waktunya kembali ke kamar. Sebelum keluar dari ruang, dia bertanya latihan apa yang saya minta untuk keesokan harinya. Saya jawab, saya butuh latihan menarik beban, karena itu sangat membantu menguatkan otot saya. Dia jawab ok.
Latihan yang paling menakutkan adalah berjalan. Ketika petugas yang tiap sering melatih fisik ku datang membawa Rollator, setelah sehari sebelumnya memberitahukan kepada saya. Rollator adalah alat penyangga jalan yang memiliki roda 4 dan bisa didorong. Dia memintaku berdiri memegangnya dalam kondisi direm. Saat itu saya mampu melakukan. Tapi ketika dia memintaku untuk melepas rem supaya saya bisa berjalan, keringat saya bercucuran, perut terasa tertarik sambil bertanya pada diri saya sendiri: apakah saya bisa?. Dia seperti biasanya meyakinkan bahwa dia akan berada di dekat saya dan akan memberi pertolongan kalau saya terjatuh. Hari pertama latihan jalan berlum berhasil Sehingga latihan hari itu sebatas pengenalan terhadap alat bantu jalan yang namanya rollator dan cara pemakaiannya dan dia mengatakan kalau besok akan datang dengan alat sang sama yang diberi pemberat 5 kilo sehingga berfungsi sebagai penghambat laju roda rollator.
Keesokan harinya ternya dia menepati perkataannya, membawa rollator plus pemberat 5kilo yang diletakkan dikeranjang depannya. Dia bertanya apa saya siap latihan jalan. Saya jawab saya akan mencobanya. Saya berjalan persis robot saking kakunya. Dengan sangat ketakutan akan jalan akhirnya saya mampu berjalan setengah tapak kaki demi setengah tapak kaki hingga kepintu kamar. Itu artinya saya mampu berjalan ke depan sekitar 5 meter. Bagiku ini quantum leap. Sebuah lompatan luar biasa seorang yang nyaris mati dalam sebulan sudah mampu berjalan dengan rollator. Kemampuan ini terus terang saja membuat semangatku terboosted. Saya katakan kepada diri saya : “Suatu saat saya pasti bisa berjalan lagi seperti semula. Tinggal tunggu waktunya.” Saya ceritakan kepada semua perawat bahwa saya sudah bisa berjalan mempergunakan rollator. Mereka tentu saja senang dan memberiku selamat.
Berbagai jenis latihan fisik ringan saya jalani di LUMC hasilnya sungguh mencengangkan. Kemampuan motorikku semakin meningkat. Di minggu keenam saya sudah mampu menggerakkan kursi roda keliling departemen penyakit syaraf atau neurologi. Selama dua minggu terakhir di LUMC, praktis setiap kawan PPI Leiden yang mengunjungiku saya ajak ke ruangan tamu yang letaknya sekitar 25 meter. Sehingga seberapa banyak kawan yang mengunjungi tidak perlu pasien lain khawatir terganggu. Selain itu saya bisa melatih otot tanganku untuk menggerakkan kursi roda.
Saya akan bercerita tentang latihan fisikku di Rijnland Revalidatie Centrum pada episode berikutnya, tapi sekali lagi cerita ini harus saya penggal dengan cerita mengenai Double Vison alias penglihatan ganda.
No comments:
Post a Comment