Saturday, June 1, 2013

Berdamai dengan sakit: Episode keempat

Catatan kecil
ini adalah catatan saya di facebook tanggal 22 Januari 2011 yang sengaja saya daur ulang di blog ini semoga bisa dibaca oleh lebih banyak kawan lagi.

Kentut dan pisang: (Edisi selingan)

Sebelum saya menceritakan tentang bagaimana saya belajar berjalan di LUMC maupun di Rijnland Revalidatie Centrum, saya akan menceritakan dua kejadian lucu yang terjadi ketika saya dirawat di LUMC. kejadian itu berkaitan dengan kentut dan pisang. selamat membaca.

Kentut
Salah satu efek samping dari obat yang saya minum adalah membesarnya rongga perut saya. Dan itu berakibat rasa “sebah” sering saya rasakan di bagian perut  saya. Akhirnya saya sangat sering kentut alias buang gas amoniak yang baunya gak usah ditanya lah sedapnya.

Ketika Din Wahid mengunjungi saya setelah test Angiografi cerita ini dimulai. Din Wahid adalah salah satu diantara kawan PPI Leiden yang paling rajin menengok saya di rumah sakit. Dia mengambil program Ph. D seperti saya, dibimbing Prof. Martin van Bruinessen. Dissertasinya akan membahas gerakan Salafi di Indonesia. Beberapa hari sebelumnya, ketika mengunjungi, saya cerita bahwa saya akan menjalani test Angiografi. Saya jelaskan bahwa saya akan menjalani operasi ringan di pangkal paha saya untuk dimasukkan pipa kecil yang akan memasukkan cairan yang berfungsi membantu mempetakan kerusakaan jaringan tubuh saya.

Ketika dia berkunjung bersama beberapa kawan PPI Leiden, saya kentut berkali-kali, karena saat itu memang perut saya kembung akibat efek samping obat yang saya minum. Mungkin saat itu dia berpikir “Busyet nih Amiq kentut gak berhenti berhenti, mana bau lagi” Tapi dia inget cerita saya sebelumnya bahwa saya baru menjalani operasi kecil (Padahal sebenarnya gak juga sih). Dia mungkin tahu kalau kentut paska operasi adalah pertanda kebaikan. Maka Din Wahid dengan inisiatifnya sendiri menjelaskan sekaligus melakukan pembenaran atas apa yang saya lakukan. Dan bilang ke teman-teman “Kalau habis operasi itu, terus bisa kentut artinya kondisi Amiq sekarang ini sudah normal kembali”.

Pelajaran pertama. Saat sakit semua orang akan memaklumi perbuatanmu, segila apapun. Just do it (kaya iklan sepatu saja)

Pisang
Ketika saya sakit, kawan-kawan PPI Leiden tidak jarang membawa oleh oleh. Begitu juga kawan JKI (Jaringan Kerja Indonesia). Kadang buah, kadang bunga, ada juga yang menghadiahi barang seperti teko. Cerita lucu kedua ini berkaitan dengan bawaan mereka yang berupa buah-buahan, Pisang. Buah ini menurut pengetahuan saya adalah buah yang paling sehat untuk dikonsumsi semua umur. Tapi ternyata tidak menurut perawat yang merawat di bagian neurologie LUMC. Buah yang kaya kandungan zat kalium tersebut  bagi penderita penyakit stroke ternyata tidak terlalu baik.

Ceritanya begini.
Saat itu saya memperoleh oleh oleh buah pisang yang agak banyak, kalau gak salah dari dua orang kawan. Itu artinya ada 8 buah pisang yang cukup besar. Di Belanda, pisang yang dibeli di Supermarket biasanya berjumlah 4-6 buah sepaket. Tidak seperti di Indonesia kalau membeli pisang pasti satu “cengkeh” yang berisi kurang lebih 12 buah, apapun ukurannya. Saya memang sangat menyukai pisang sejak dulu. Apa lagi saat itu, bagi saya pisang akan sangat membantu memperlancar buang air besar.

Ketika itu saya mengkonsumsi kurang lebih 6 buah pisang dalam dua hari. Rupanya pola makan saya tersebut tidak lepas dari pengamatan salah satu perawat yang merawat saya di LUMC. Namanya Furaida, asli Belanda tapi saya tidak pernah menanyakan nama keluarganya. Dia lumayan cantik lah untuk ukuran cewek Belanda.

Rupanya dia selalu menghitung jumlah pisang yang saya miliki. Kurang kerjaan apa suster satu ini. Waktu di menyadari bahwa hari itu pisangku berkurang 4 dalam sehari, dia marah dan berkata:
“Mr. Amiq, kamu makan pisang hari ini terlalu banyak. Itu tidak baik untuk perut anda.”
Saya terkejut dengan teguran tersebut, saya pikir dari mana dia tahun saya makan pisang 4 buah dalam sehari. Yah biasa, akhirnya saya ngeles dan brkata
“Enggak, saya cuma makan pisanh satu buah hari ini”
“Jangan bohong, saya menghitung pisangmu berkurang empat. Itu artinya hari ini anda makan 4 buah pisang”
Busyet deh, perawat cewek Belanda satu ini. Baru kali ini saya dimarahi perawat setelah hampir 2 minggu dirawat di rumah sakit. Saya gak kekurangan alibi
“Yang makan bukan saya, tapi kawan kawan yang menjenguk saya. Kamu tahu sendiri kan, kalau hari ini saya dikunjungi banyak kawan?”
“Saya gak percaya. Jangan diulangi lagi ya, itu tidak baik untuk perut anda. Maksimal anda hanya boleh mengkonsumsi 2 buah pisang sehari” Furaida gak mau kalah.
Saya gak mau melanjutkan perdebatan ini akhirnya saya menuruti dan berkata “ok”

Keesokan harinya, Furaidan kebetulan menjadi perawat jaga. ketika jam jaganya, saya berbasa basi tanya siapa namanya, dari mana asalnya. Dia mengatakan bahwa namanya adalah Furaida, asli Belanda ini adalah tahun kedua dia belajar ilmu Keperawatan di LUMC.
Saya kemudian bertanya apakah dia keturunan Arab? Dia jawab tidak karena dia asli Belanda.
Saya katakan bahwa Furaida dalam bahasa Arab adalah “het kleine Farid” Farid yang cantik. Dia tersenyum simpul.Manis banget senyumnya. Sejak itu dia menjadi perawatku yang manis dan tidak lagi peduli berapapun pisang yang saya makan. Walah………….

Pelajaran  kedua. Kalau sakit, jangan lupa memuji kecantikan perawat, maka kamu akan memperoleh banyak kelonggaran.
Like ·  ·  · Promote · 

No comments:

Post a Comment